AWAL PERMULAAN

Oke, dari sudut pandangku, semuanya itu bermula dari satu orang. Meski pada perkembangannya menjadi dua orang, tiga orang, hingga ke banyak orang. Namun dari satu orang inilah Medan Napoleon mampu mengguncang pasar dengan sedemikian rupa.

Orang ini masih muda, ganteng, stylish dan kelihatan cerdas khas orang Jakarta. Dan memang beliau berasal dari Jakarta. Setelah beberapa  waktu kemudian baru aku tahu bahwa beliau asli orang Medan.

BAPAK

Pertama berjumpa saat sesi wawancara. Aku bersama pelamar lain di satu ruangan di sebuah restoran lesehan yang cukup ternama di Medan. Beliau memberi kami beberapa pertanyaan dan tugas. Pada saat itu kami semua termasuk aku, memanggilnya Abang 😆

Mungkin karena pembawaan beliau yang ramah, to the point, open minded pokoknya berbeda dengan pewawancara kerja yang pernah aku temui sebelumnya. Jadi ya, tidak salah jika kami semua terkecoh pada pandangan pertama. Hahaha.

Segera setelah resmi bekerja ia membahasakan kami agar  memanggilnya "Bapak". Begitupun istrinya. Awal mula berkomunikasi hanya via telepon dan chat telegram. Tanpa aku tau siapa nih, wanita yang tiba-tiba muncul langsung dengan banyak request. Hahaha, dasar wanita memang banyak maunya 😅.

Tanpa sungkan aku panggil dia kakak. Soalnya aku berpikir untuk cari aman. Biasanya perempuan Medan lebih suka dipanggil kakak karena terkesan akrab dan lebih muda. Jadi Kalau ujug-ujug aku panggil ibu, sedang dari suaranya dan Namanya saja masih kekinian kan aku takut blio tersinggung ya kan.. Eh.. gak taunya, ternyata dia juga membahasakan dirinya "Ibu" kepada kami. Jadi semua analisa probabilitas ku salah dong. Hahaha😆.

Dan hal itu tetap terbawa hingga kini. Iya iyalah ya.. Hahaha.. Gak Terbayangkan aja sekarang kalau  tetap Memanggil mereka "Abang dan kakak".

BUZZER

Pada masa itu, aku masih terbilang awam dengan istilah selebgram, buzzer dan influencer. 

Disini aku semakin mengerti dan mengenali pemanfaatan keberadaan mereka bagi sebuah bisnis.

Ketika wawancara kerja, si bapak memang sudah menekankan pada sisi seberapa banyak kamu mengenal 'Orang-orang' di Medan. 

Karena aku tergabung dalam sebuah komunitas yang memungkinkanku mengenal banyak orang Medan. Jadi, aku sering ditugaskan untuk menemui beberapa orang terkait dengan urusan marketing Medan Napoleon. Sebagian besarnya adalah buzzer dan selebgram Medan yang memang sudah kukenal.

Namun yang menarik adalah bagaimana beliau bersikap di hadapan mereka. Beliau menyerap sebanyak mungkin ilmu dari orang-orang tersebut sekalipun hanya founder sebuah akun buzzer Instagram.

Dalam bahasa kasarnya, si Bapak mengambil sebanyak mungkin keuntungan ketika bersama mereka, tanpa mau mengeluarkan sedikitpun ilmu miliknya 😆.

Jadi, dia biarkan saja sebagian besar mereka menggurui.  Ketika Medan Napoleon sudah berjalan, secara tidak langsung ia seperti membungkam mulut mereka. Secara telak pula. 🤔

Dan sejak saat itu, aku menanamkan pada diriku untuk selalu berhati-hati pada setiap orang. Dan jangan pernah bermulut besar. Karena wajah tertampar ucapan sendiri itu sungguh memalukan. Dan malu yang paling sulit disembuhkan adalah malu pada diri sendiri.

KONTROL JARAK JAUH

Siapa bilang ia stay selalu di Medan ketika membangun bisnis ini?
No, no, no.

Tak butuh waktu lama bagi si Bapak untuk hengkang dari Medan setelah interviewed day. Hari pertamaku kerja aku tidak bertemu dia. Begitupun seminggu setelahnya.

Namun yang namanya komunikasi tak pernah awas! Di grup yang berisi para owner, aku dan rekanku. Ia tak pernah lelah memberi perintah. Dia.. dia.. dan dia.. yang lain cuma menanggapi. Sedang kami hanya membalas; siap, oke, noted, done. Sekalipun hari Minggu!!

Itulah inti mengapa bisnis ini berhasil. Karena meskipun para owner saling LDR dengan bisnis ini. Tapi tetap ada jari jemari satu orang yang tidak pernah terlelap demi kontrol yang berujung omset.🙃

UPS! Ralat. Bukan jari jemari satu orang tapi dua. Karena di grup yang berbeda ia dan sang istri saling berkolaborasi memainkan jari jemari agar job desk kami tak pernah sepi. 😂

FAMILY MAN

Sejujurnya ia tergolong orang yang kejam dalam bersosialisasi dan berinteraksi sekalipun dengan para pegawainya. Tak perlu aku rincikanlah maksud dari kejam itu karena inikan hanya sudut pandangku saja, bisa jadi subjektif tapi bisa juga objektif.

Tapi dalam urusan keluarga beda urusan. Ya... Walaupun ia terkesan suami egois dari luar, ternyata  aslinya ia seorang Family man.

Kalau pas datang ke Medan, pasti ia turut memboyong istri dan ketiga anaknya. Tak tanggung-tanggung, biarpun harus stay sampai sebulan di Medan ia tetap memikirkan pendidikan anaknya. Minimal guru Qur'an pun blio panggil.

Pernah juga saya melihat dia menidurkan anaknya yang masih bayi di kantor. Hahaha.. pakai gendongan monyet gitu. Aish.. kadang-kadang unyu sih itu bapak. Tapi, kadang-kadang itu ya..... Jarang sekalee 🤣.

PENUTUP

Kalau mengambil kesimpulan dari sosok Bapak satu ini aku agak bingung sih. Karena ya.. He's kind of complicated person. Tapi di saat yang sama juga dia orang yang simple. Fokus sama tujuan. Kalau kita udah tau tujuannya apa, maka kita lebih mudah memahami.

Dengan segudang pengalaman dan asam garam kehidupan 😄 mulai dari enterpreneur muda Mandiri, staf PBB, hingga pionir dawet yang akhirnya menjamur seantero Sumatera. Beliau termasuk orang yang low profile alias rendah hati. Tapi pada sisi lain ia seperti orang yang tidak membutuhkan orang lain. Siapa Lo siapa gua. Udah gitu aja.😅

Apapun itu, tampaknya dunia marketing saat ini membutuhkan orang-orang semacam beliau. Fokus pada tujuan, Open minded, to the point dan punya kepribadian membingungkan. Hahaha.. Peace ya bapak!


No comments:

Post a Comment