Tuesday, 10 October 2017

MEMANG BEGINILAH WORLD JAMAN NOW

Apa kata bunga, 10 Oktober 2017.

Di dunia serba digital masa sekarang ini, manusia semakin banyak disuguhi oleh hal-hal baru yang benar-benar baru ataupun hal-hal baru yang berupa pengulangan dari masa yang telah lampau. Apalagi jika menyangkut kelakuan Kids jaman Now a.k.a anak-anak jaman sekarang yang kalau saya terka, nampaknya merupakan bagian dari generasi Z. Apa itu generasi Z? Generasi Z adalah generasi akhir zaman (Ahahaha. minjem bahasa broadcast) abad 21 penerus para millenials.

Nah! Generasi Z ini disinyalir para ilmuwan adalah generasi yang terdidik. Lebih terdidik dari para millenial dan bahkan lebih serba bisa. Tapi... mereka juga lebih tidak fokus dan lebih egocentris juga lebih individualis.

Internet! Adalah satu-satunya tempat dimana kita bisa menemui berbagai macam generasi di satu tempat. Mulai dari generasi X sampai mungkin generasi Alpha. Tapi, hampir bisa dipastikan bahwa penghuni dunia maya tersebut sebagian besar adalah kaum millenials dan kaum Z. Dimana dunia internet menjadi tempat kesamaan kedua generasi ini saling bertubrukan, yakni sama-sama mahir teknologi, sama-sama bersifat global dan terbuka, sama-sama tidak teliti alias terburu-buru, sama-sama kurang fokus pada satu hal secara mendalam, dan sama-sama tidak menghargai proses alias serba instan dan akhirnya membentuk sebuah pola baru dan tren baru yang antara lain kita kenal sebagai selebgram, trending topic, viral dan hoax. Yup, bisa dibilang kita ini adalah generasi YANG PANDAI MENGETIK TAPI TIDAK PANDAI MEMBACA.

salah satu contoh kelakuan generasi pandai ngetik tak pandai baca dalam kasus bunga verbena brasiliensis di gunung Semeru.
Padahal admin akun tersebut telah menulis caption seperti ini.
Disreenshot dari akun instagram @pendakiindonesia
Beberapa kali saya merasa tidak nyaman dengan kelakuan anak-anak segenerasi ini di internet (Padahal gue juga bagian dari mereka. hewhewhew). Mulai dari cara mereka memposting sesuatu, menanggapi suatu komentar atau postingan, bahkan men-share berita-berita yang belum jelas juntrungannya tanpa berpikir panjang mengenai dampak yang dapat terjadi. Secara pribadi saya merasa kesal dan lelah (Eiceileeey) dengan ulah para netizen semacam ini. Emosional saya seperti diajak naik roller coaster. Adrenalin langsung muncul, up and down. Kadang happy kadang gemez, ketzel sampe pengen nangis. Hasrat ingin membalas semua komentar mereka itu sangat besar.

Tapi kemudian, saya mendapat pencerahan, dari seorang guru bernama Suhendra bahwa jika saya membalas, merespon atau melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan kepada orang-orang, lalu, apa beda saya dengan mereka alias orang-orang mengesalkan dari gunung lawuh tersebut? (Maksudnya dari tempat yang gue juga kagak tau asal mereka dari mana).

Dari situ saya berpikir, Ternyata tidak semua orang se-mengesalkan itu. Saya kaji kembali sayapun menemukan bahwa lebih banyak orang-orang yang saya kenal sebagai orang baik dan menyenangkan ketimbang sebaliknya. Namun tetap saya tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang manusia bisa melakukan hal yang merusak terhadap manusia lainnya.
Sampul depan Majalah Nurul Hayat Edisi September 2017
Dan rupanya salah satu artikel dari majalah Nurul Hayat edisi September 2017 yang saya miliki membuka pikir saya bagaimana cara terbaik menyikapi kehidupan ini. Judulnya saja sudah menarik, "Nikmatilah, memang beginilah dunia". Karena hikmah yang saya dapatkan sungguh bermanfaat, maka dari itu saya memutuskan untuk membaginya kepada sahabat sekalian. Intinya kurang lebih seperti ini: 

Dunia adalah tempat manusia memiliki hak memilih menjadi baik atau buruk. Lalu setiap pilihan akan berimplikasi pada dirinya dan orang lain. Orang lain bisa senang, bisa juga tidak senang. Jangankan berbuat jelek, berbuat baik sekalipun, kita bisa dibenci. Orang lain bebas memilih perbuatannya, kita sendiri juga bebas memilih sikap.
Karena kebebasan itulah, setiap orang yang hidup di dunia pasti akan menemui keadaan dimana dia akan merasakan kesukaan dan kebencian, senang dan sedih, lapang dan sempit. Belum lagi kondisi-kondisi sunnatullah seperti sakit, usia menua, meninggal dunia, kecelakaan atau bencana. Kita tidak bisa menghindarinya, maka pasti akan kecewa mereka yang berpikir bahwa dunia ini akan semirip surga dan juga terlalu berlebihan mereka yang berfikir dunia ini sudah semirip neraka.
Orang-orang beriman akan mendudukkan dunia pada tempatnya. Mereka mengetahui hakikat dunia sebagaimana yang Allah SWT telah firmankan, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tamanan itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al- Hadiid : 20)
Ayat ini sudah menjelaskan tentang tabiat dunia yaitu: bahagia dan sengsara. Maka, menyadari tentang hakikat tabiat dunia, adalah kunci utama kita bisa menyikapi hidup. Orang-orang beriman bukannya tak mengalami sedih. Secara manusiawi, mereka juga akan ditimpa kesedihan. Tapi kesedihan itu tidak sampai membuatnya larut dalam keputusasaan. Cakrawala berfikirnya telah menyampaikan pada kesadaran:Ya beginilah hidup. Kadang susah, kadang senang. Kadang di atas kadang di bawah. Allah SWT berfirman, "Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)" QS. Ali Imran: 140).
Jangan menganggap dunia ini menyusahkan. Jangan anggap dunia ini hanyalah kegelapan. Tidak malukah kita, mengeluhkan hidup dan memutus-asainya, sementara kita masih bisa makan dan minum, juga masih bisa tidur? Seberat apapun ujian yang dialami di dunia, tetap saja ada bagian-bagian yang kita jalani sebagai kenikmatan. Hanya saja nikmat itu tidak pandai kita rasakan. Kebanyakan kita membesar-besarkan masalah daripada membesar-besarkan anugerah.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (QS. Al-ma'rij)
Maka, nikmatilah hidup ini. Saat kita berada dalam kenikmatan, berperanlah sunguh-sungguh sebagai orang yang menerima nikmat. berbagilah kebahagiaaan dengan orang lain. Saat kita dalam ujian kesempitan, jadikanlah ia seperti tantangan hidup. Buatlah sukarnya mencari nikmat yang dapat disyukuri diantara tumpukan musibah, sebagai sebuah perlombaan. Yang kalau kita sanggup menemukannya, maka anda layak menjadi pemenangnya. Anda layak mendapat vocher hadiah 'tambahan nikmat'. Allah SWT berfirman, "Sungguh jika kalian syukur, maka benara-benar kami tambahkan nikmat kami kepadamu. (QS. Ibrahim:7).
Wallahu a'lam bisshawab. 

No comments:

Post a Comment