Sunday, 20 March 2016

NUTRITALK DAN PENGALAMAN MALNUTRISI PADA ANAK DENGAN ALERGI SUSU SAPI



Tanggal 14 maret 2016 kemarin saya dan teman-teman blogger serta beberapa media lokal Medan mendapat undangan untuk menghadiri diskusi Nutritalk #AlergiProteinSusuSapi yang diselenggarakan oleh Sarihusada dan berlangsung di Washington Room, JW Mariot Hotel Medan.

Diskusi kali ini menghadirkan dua pakar di bidang nutrisi anak yakni DR. Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K), seorang konsultan alergi imunologi anak dari RSCM Jakarta dan Dr. Bernie Endyarnie Medise, SpA(K), MPH, seorang konsultan tumbuh kembang anak RSCM Jakarta.

Nutritalk Dengan Konsep Menarik





Acara dimulai pukul 9 pagi sesuai dengan rundown acara yakni registrasi dan coffee break sampai jam 10 pagi. Yang menarik ketika akan memasuki washington room, di sepanjang koridor menuju ruangan diskusi, telah disediakan berbagai macam booth untuk pengunjung.

Ada booth foto, games dan informasi nutrisi. Di salah satu booth, peserta diberi kupon yang bisa ditukarkan dengan goodie bag. Hanya saja karena saya terlambat, jadinya tidak sempat mengambil kupon dan coffee break, haduh.

Ya sudah, lanjut konsentrasi ke acara. Tepat pukul 10, acara dibuka oleh Mbak MC yang cantik. Beliau memberikan pengantar singkat mengenai nutrisi tepat di awal kehidupan untuk optimalisasi tumbuh kembang anak.
Dilanjutkan oleh Head of Corporate Affairs Sarihusada, Bapak Arif Mujahiddin membuka acara diskusi. Beliau menerangkan sedikit tentang urgensi diadakannya acara ini. Menurut  beliau terselenggaranya acara ini merupakan bentuk komitmen Sarihusada memberikan edukasi, meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai alergi dan langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan.

“Oleh karena itu, pada acara diskusi kali ini kami mengundang dua pembicara yang nantinya bisa diajak sharing mengenai alergi pada anak-anak. Nanti silakan saja bapak, ibu bertanya langsung pada mereka.” Ucap Bapak Arif.

Materi Dokter Zakiudin Munasir: Orangtua Sering Salah perlakuan Terhadap Anak Dengan Alergi

Setelahnya langsung saja MC yang kece tadi mengambil alih dan mempersilakan pembicara pertama yakni Dokter Zakiudin Munasir untuk memberi penjelasan berkenaan dengan tema Nutritalk kali ini yakni mengenai dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak Dengan Alergi Protein Susu Sapi.

Bapak dokter berusia 62 tahun ini membuka materinya dengan mengungkapkan fakta  yang agaknya mengejutkan. Ternyata satu dari dua puluh lima anak di Indonesia mengalami alergi susu sapi dan setiap tahun penderita alergi susu sapi terus meningkat. Menurutnya, salah satu penyebab peningkatan ini karena semakin banyak ibu bekerja yang menggantikan ASI dengan susu formula sebagai asupan bayinya yang notabene berasal dari susu sapi.

Jika hal ini dibiarkan maka akan semakin banyak anak Indonesia yang mengalami malnutrisi karena sebagai penderita alergi, anak tersebut harus menghindari beberapa jenis makanan. Padahal kandungan yang terdapat pada makanan tersebut sangat penting bagi optimalisasi tumbuh kembang anak.

Salah satu contohnya adalah susu sapi, sesungguhnya susu sapi merupakan sumber utama pengganti ASI, namun karena pencernaan bayi belum dapat menerima protein susu sapi secara utuh, oleh karena itu harus diformulasi terlebih dahulu.

Bagi anak yang positif memiliki alergi terhadap protein susu sapi, susu formula saja tidaklah cukup. Sebelum diberikan kepada bayi, susu sapi harus dihidrolisis terlebih dahulu sehingga rantai proteinnya menjadi lebih pendek. Namun bagi penderita alergi akut, susu sapi terhidrolisis pun tidak cukup menekan timbulnya gejala alergi, sehingga jalan satu-satunya adalah dengan memberikan susu sapi yang sudah terhidrolisis ekstensif.

Sayangnya harga susu terhidrolisis ekstensif sangatlah mahal, selain itu rasanya juga tidak seenak susu formula biasa sehingga banyak anak yang menolaknya. Sebagai solusi dari masalah tersebut, para ahli memberikan alternatif pengganti protein susu sapi yakni protein soya atau susu yang berasal dari kedelai. Selain rasanya lebih enak, harganya juga jauh lebih terjangkau.

Dari semua protein nabati yang telah diteliti para ahli, hanya protein soya yang mampu mengejar nutrisi yang terkandung dalam protein susu sapi sehingga dapat dijadikan asupan dan makanan pendamping ASI. Namun tetap saja susu kedelai yang sudah terhidrolisis yang dapat dikonsumsi oleh bayi, bukan asal sembarang susu kedelai. Karena ada beberapa kandungan soya yang dapat menghambat tumbuh kembang bayi.

Fakta lain yang wajib diketahui adalah jika orang tua memiliki riwayat alergi, maka anaknya akan berisiko mengidap alergi dengan persentase sebesar 40 hingga 60%. Bahkan anak yang orang tuanya tidak memiliki riwayat alergi pun memiliki risiko alergi sebesar 5 hingga 15%.

Nah, untuk mencegah serta mengobati alergi makanan seperti protein susu sapi dan sebagainya, dokter Zaki memberi beberapa solusi. Yang pertama adalah mengeliminasi makanan alergen atau makan yang dapat memicu alergi, namun dengan beberapa catatan.

Yang pertama, temukan makanan pengganti dengan nutrisi senilai untuk mencegah malnutrisi. Yang kedua, jangan takut untuk mencoba makanan alergen sesekali, karena umumnya alergi makanan akan menghilang dalam jangka waktu tertentu. Yang ketiga memberikan ASI ekslusif, karena bagaimanapun juga, ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi.

Selain mengandung nutrisi yang dapat memenuhi kebutuhan bayi, ASI juga dapat membentuk imunitas bayi secara alami. Hal terpenting lainnya adalah menghindarkan asap rokok pada ibu hamil dan menyusui. Karena asap rokok dapat mempengaruhi imunitas bayi terhadap makanan dan lingkungan di sekitarnya.

Materi Dokter Bernie: Salah Satu Ciri Anak Adalah Tumbuh Dan berkembang

Selanjutnya giliran dokter cantik yang juga Ketua Satgas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memberikan pemaparan tentang optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan anak yang menderita alergi. Dokter Bernie menyampaikan hal-hal yang dibutuhkan oleh anak terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupannya serta bagaimana perlakuan yang benar terhadap anak dengan risiko alergi protein susu sapi.

Lagi-lagi protein susu soya sebagai pengganti susu sapi bagi anak penderita alergi adalah yang paling unggul.  Menurut dokter Bernie, alergi protein susu sapi merupakan salah satu bentuk alergi makanan, sehingga anak lebih berisiko mengalami gangguan pertumbuhan yang berkaitan dengan asupan makanan.

Tapi dengan intervensi nutrisi yang tepat dan dipantau dengan baik, anak pengidap alergi tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Penelitian telah membuktikan anak yang menjadikan protein soya sebagai pengganti protein susu sapi mampu tumbuh dan berkembang secara optimal dari segi fisik dan otaknya sama seperti anak-anak lain.

Intervensi nutrisi pada anak penderita alergi bertujuan untuk mencegah paparan alergen sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak tidak terganggu. Salah satu bentuk intervensi nutrisi adalah dengan memberikan protein terhidrolisis parsial. Dengan protein terhidrolisis parsial, panjang rantai protein susu sapi dapat terpotong menjadi lebih pendek dan ukuran massa molekulnya juga dapat diperkecil sehingga mudah dicerna oleh pencernaan bayi dan anak. Dengan demikian tidak menstimulasi terjadinya paparan allergen.

Nah, dari penjelasan kedua narasumber benar-benar memberi saya banyak pengetahuan baru seputar alergi. Dan jadi lebih pede nantinya kalau jadi ibu. Hehe.

Sebenarnya apa yang disampaikan oleh kedua pembicara diatas sudah saya alami dalam kehidupan sehari-hari. Saya sendiri pernah mengalami alergi udang ketika kecil, tubuh jadi gatal-gatal, bengkak hingga wajah sulit dikenali. Padahal orang tua dan saudara kandung bukanlah pembawa risiko.

Tapi alergi tersebut hilang setelah satu atau dua tahun, sehingga kini saya bisa makan udang dengan tenang. Namun berkat diskusi ini, hal tersebut menjadi catatan bagi saya. Jika nanti saya memiliki anak, mungkin saja alergi tersebut dapat turun pada anak saya. Dan jika itu terjadi, saya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Terima kasih Sarihusada. ^^

Sesi Dialog Dan Winner Anouncement


Tepat pukul 11, acara dilanjutkan dengan sesi dialog dimana peserta dapat mengajukan pertanyaan langsung kepada narasumber. Namun sebelumnya, Mbak MC yang cantik mengajak semua peserta untuk sama-sama mengisi kartu deteksi dini UKK alergi Imunologi yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dibimbing oleh dokter Zaki.

Sejujurnya, karena belum punya pasangan apalagi anak, saya menghitung resiko alergi terhadap diri saya sendiri. Dan hasilnya adalah nol, meski demikian saya pernah juga mengalami alergi makanan seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya.

Akhirnya sesi tanya jawab dimulai. Para peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan kepada para narasumber. Beberapa pertanyaan diambil dari kisah nyata (kehidupan sehari-hari peserta J) adapula yang bertanya guna mendalami materi yang diberikan. Selanjutnya sampailah pada acara puncak sekaligus yang ditunggu-tunggu para peserta yakni winner announcement.

Ada dua kompetisi yang dapat diikuti peserta yakni door prize berhadiah uang tunai untuk empat peserta yang beruntung sebesar Rp. 400.000,-, serta live tweet berhadiah voucher belanja senilai Rp.300.000,- untuk lima orang pemenang.

Hm, meski saya ikut berkompetisi di keduanya tapi ternyata belum beruntung memenangkan salah satunya. Mungkin ini berkaitan dengan sabda Rasul yang mengatakan bahwa Allah akan menghimpun rezeki orang yang sudah menikah dua kali lipat. Hadist ini terbukti benar, soalnya semua hadiah jatuh kepada orang yang sudah menikah. Ada juga yang belum menikah, namun saya yakin itu karena mereka lebih cekatan mengirim tweet melebihi saya. Hehe.

Setelah pengumuman pemenang, maka selesai pula acara diskusi Nutritalk pada hari itu. Panitia dan pengisi acara meninggalkan ruangan, sedang peserta dipersilakan menikmati makan siang yang sudah dipersiapkan oleh pihak JW Mariot.

Meski pulang tanpa membawa hadiah kompetisi, namun saya pulang membawa segudang ilmu yang didapat dari narasumber yang sudah mumpuni di bidang kesehatan anak. Tentu ini merupakan hadiah mahal yang akan selalu berguna hingga nanti sampainya saya memiliki anak.

Menjadi Saksi Hidup

Nah, jika berbicara mengenai dampak alergi pada tumbuh kembang anak, saya memiliki pengalaman dan menjadi saksi hidup. Seorang sahabat yang kebetulan tinggal di sebelah rumah, memiliki anak yang kini berusia tujuh tahun, sebut saja namanya namanya Fayadh. Sejak berusia satu atau dua tahun Fayadh sudah menderita asma hingga nafasnya berbunyi.

Kemungkinan besar penyebab serangan asma pada Fayadh adalah alergi, karena sang ibu merupakan pengidap alergi. Ibu Fayadh selalu merasakan gatal-gatal dan bengkak (Dalam bahasa jawa disebut biduran) setiap perubahan udara dari panas menjadi dingin dan sebaliknya. Sehingga sangat mungkin Fayadh juga mengidap alergi meski bentuk serangannya tidak sama. Apalagi belum sampai usia 6 bulan, bayi Fayadh tidak mau lagi minum ASI, dan sejak itulah ia mengkonsumsi susu formula.


Orangtua Fayadh tentu telah membawanya berobat ke dokter spesialis anak, namun hasil yang didapat tidak terlalu signifikan. Tubuh dan otak Fayadh tidak dapat tumbuh berkembang secara optimal.  Apalagi jika dibandingkan dengan abangnya yang tidak memiliki alergi, sangat kontras.

Hal ini mungkin disebabkan oleh alergi yang dialami Fayadh. Ia harus mengkonsumsi obat dokter secara rutin, menghindari makanan tertentu, menahan sesak napas yang tiba-tiba menyerang, dan sebagainya sehingga badannya selalu tampak kurus.

Kini Fayadh berusia enam tahun dan duduk di bangku SD, namun ia mengalami masalah dalam belajar. Ia mengalami kesulitan membaca sehingga selalu tertinggal dengan teman sebayanya di sekolah.

Meski serangan asmanya sudah berkurang atau bahkan sudah tidak timbul lagi, orang tua Fayadh harus menemukan solusi  atas problematika  baru mengenai tumbuh kembang Fayadh fase sekolah. Jika tidak dibantu dengan penanganan yang tepat, akan berisiko bagi masa depannya kelak.
Dan begitulah, kita doakan saja yang terbaik bagi tumbuh kembang adik Fayadh ya... Kalau ada pepatah yang mengatakan learning by doing, bagi saya cukup learning by seeing dari pengalaman sahabat saya tersebut.

Dengan melihat kenyataan di depan mata ditunjang dengan materi diskusi langsung dari pakarnya, membuat saya banyak belajar dan menambah persiapan menjadi ibu yang benar. Insya Allah.

Bagi teman-teman pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak tentang nutrisi dan tumbuh kembang si kecil bisa mengunjungi Nutrisi untuk Bangsa agar bisa mendapat ilmu seperti saya langsung dari pakarnya. Atau bisa juga mengunjungi fan page facebook.com/Nutrisi.Untuk.Bangsa dan follow @Nutrisi_Bangsa . Sekali lagi, Terima kasih Sarihusada…

No comments:

Post a Comment