Thursday, 21 March 2019

BREASTFEEDING IN PUBLIC, YAS OR NAY?

Seiring dengan perkembangan zaman, pola pikir manusia berubah, begitupun dengan pola pengasuhan anak. Tapi ternyata ada hal-hal yang tidak berubah terkait dengan pola Pengasuhan ini. Salah satunya berkenaan dengan Breast Feeding in Public atau menyusui di depan umum.

Di zaman semodern ini, kasus ibu menyusui di ruang publik nyatanya masih menjadi polemik. Di tahun 2018 sempat viral beberapa foto public figure dunia sedang melakukan aktivitas breastfeeding in public.
Pro dan kontra pun mencuat, ada yang setuju dan ada pula yang merasa hal tersebut tidak pantas.

Berikut ini beberapa tokoh masyarakat yang mendapat pujian karena aksinya menyusui di ruang publik.

1. Mara Martin (Seorang model yang melenggang di catwalk sambil menyusui)

2. Larissa Waters (Mantan Senator Australia yang menyusui di sidang palemen)

Di Amerika Serikat sendiri, perdebatan pro dan kontra breast feeding in public terbilang tinggi. Puncaknya adalah dikeluarkannya undang-undang yang melegalkan wanita untuk menyusui bayinya di ruang publik di Amerika Serikat.

Peratuan ini tentu disambut baik oleh seluruh ibu menyusui terlebih di Amerika Serikat. Namun kembali, hal tersebut menjadi ironi.

Seperti yang diutarakan oleh selebgram dalam foto berikut:


Yups, that's the point. Maksudnya,  sejak kapan aktivitas menyusui menjadi sebuah hal yang ilegal? Dan bagaimana bisa? Tapi inilah faktanya.
Negara setua dan semaju Amerika Serikat saja, wanita menyusui di depan umum kerap mendapat diskriminasi. Bagaimana pula dengan negara  yang tidak semaju Amerika Serikat?

Dilansir dari tirto.id, beberapa busui dari negara seperti Iran, Turki dan Afghanistan mengaku kesulitan saat akan menyusui bayi mereka di area publik. Mereka harus menyusui tidak di depan orang lain, kurang lebih begitu.

Jika mereka bepergian, mereka harus mencari ruang yang sepi atau tersembunyi untuk menyusui atau harus membiarkan bayinya lapar.

Juga yang tak kalah viral adalah putri Presiden Kyrgyzstan Aliya Shagieva yang menjadi perdebatan setelah ia memposting foto sedang menyusui bayinya dengan dada yang terbuka.

Dalam postingan April 2017 tersebut ia memberi caption 'I will feed my child whenever and wherever he needs to be fed' Selang beberapa waktu ia menghapus foto tesebut karena mendapat banyak tekanan atau lebih.

Di sebagian besar negara Eropa, pemerintah mendukung warganya agar memberi bayi ASI eksklusif dan diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun.

Yang artinya para warga lain juga harus memberi ruang bagi si Ibu untuk menyusui bayinya. Mau ditengah ruang publik, disamping ruang publik atau di belakang ruang publik pokoknya bebas demi kesuksesan program meng-ASI-hi dari pemerintah masing-masing.

Namun begitupun masih tetap ada wanita yang mendapat diskriminasi ketika sedang memberikan hak bayi tersebut.

Sekitar awal desember 2014, seorang wanita Inggris bernama Louise Burns mendapat pengalaman tidak mengenakkan ketika menghadiri Chrismas tea di sebuah hotel berbintang di Central London.

Ia membagikan fotonya di twitter karena merasa terhina oleh perlakuan hotel tersebut yang melarang aktivitas menyusui atau mewajibkan ibu menyusui untuk menutup dirinya dengan kain penutup.


Setelah foto itu menjadi viral, hotel tersebut dibanjiri aksi protes. Hingga akhirnya aturan mengenai larangan itu berubah.

Di Indonesia, sepanjang pengalaman saya sebagai busui dan bergaul dengan sesama Ibu Menyusui, hampir tidak pernah mengalami maupun mendengar perihal diskriminasi terhadap ibu menyusui di depan umum.

Walau pernah juga, disuruh pumping di toilet gara-gara kebingungan cari tempat untuk pumping ketika sedang berkunjung ke kantor teman.

Dan yang menyuruh itu suami sendiri pula, Wkwk. Mungkin lebih tepatnya Pak Su memberi ide, bukan menyuruh. Soalnya ketika aku protes blio langsung istighfar.

"HAH?! Itu tuh untuk makan adek loh! Tega kali nyuruh ke toilet tempatnya orang buang hajat! Mana gak memenuhi standar kenyamanan." Hahaha.. Langsung istighfar.. "Astaghfirullah.. oiya ya."

Haaah... begitulah kalau harus hidup bersama makhluk yang dikenal sangat tidak peka ya buibu.. yasyudah, lanjuut.

Meski kini amat sangat jarang dan bisa dibilang tidak pernah melihat seorang ibu yang dengan serta merta mengeluarkan payudara di depan umum ketika menyusui anaknya alias kebanyakan busui  kini menggunakan penutup dada, tapi hal ini bukanlah faktor utama seorang busui terhindar dari diskriminasi seperti yang dialami oleh para wanita di negara lain.

Karena seperti cerita di atas, sebagian mereka juga menggunakan penutup dan tetap mendapat diskriminasi.

Buktinya lagi pada masa dibawah tahun 2000an, masih sering terlihat Ibu menyusui bayinya di ruang publik dengan dada yang terbuka, dan tidak ada masalah dengan itu.

Semua orang maklum dan memalingkan wajah jika merasa risih. Ini yang saya alami sepanjang saya tinggal di Indonesia. Meski saya pernah membaca postingan yang kontra dengan hal tersebut, tapi tetap saja, si netijen hanya memposting di sosial media, tidak langsung mendiskriminasi busui tersebut di TKP.

Kalau kamu punya pengalaman berbeda, silakan berbagi di kolom komentar. Pasti bakal keren. ^^

Dan yang enggak kalah keren adalah negara kita telah lebih dulu memiliki payung hukum untuk para busui ketimbang Amerika Serikat!

Sederhananya ada di infografis dari tirto.id mengenai berbagai undang-undang yang mengatur hak-hak ibu menyusui dan kewajiban negara serta masyarakat untuk turut menyukseskannya.


Nah, kalau sudah begini jadi makin semangat deh perempuan-perempuan Indonesia untuk mengASIhi ya kan.. Kalau masih ada yang nyinyir apalagi sampai mendiskriminasi tabok aja pakai undang-undang sampai dia minta maaf.

Haha, galak mode on.

Dari beberapa fakta diatas, dapatlah disimpulkan bahwa kesadaran memberikan perlindungan kepada para busui dalam menjalankan tugasnya serta membebaskan para bayi untuk dipenuhi haknya dimanapun dan kapanpun, sangat berkaitan erat dengan budaya, tidak melulu soal pendidikan dan maju atau tidaknya suatu negara.

Hal sesederhana ini akan terus menjadi polemik tak berkesudahan jika stigma sensualitas dari seorang wanita tidak ditempatkan sesuai dengan porsinya. Sehingga hak para bayi untuk mendapatkan ASI sesuai dengan fitrahnya juga terabaikan.

Jadi, kalau kamu gimana? Tetap berani menyusui di ruang publik?

LUV!