Thursday, 25 August 2016

FESTIVAL KEBUDAYAAN JEPANG ‘BUNKASAI’ USU


Apa kata Bunga.


Pertengahan bulan Maret kemarin, Konsulat Jenderal Jepang untuk Medan, bekerja sama dengan Mahasiswa Sastra dan Bahasa Jepang Universitas Sumatera Utara menggelar acara tahunan Festival Kebudayaan Jepang di  halaman kampus Fakultas Ilmu Bahasa dan Seni Universitas Sumatera Utara.

Acara tersebut berlangsung selama 3 hari yang dimulai dari tanggal 17 hingga 19 Maret. Acara tahunan ini telah digelar 9 kali. Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan antara Indonesia dan Jepang sekaligus memperkenalkan budaya Jepang serta menyatukan komunitas penggemar Jepang sekota Medan.

Daniel Satria, ketua panitia menjelaskan bahwa Bunkasai tahun ini mengambil tema Haru atau musim semi. Jadi pengunjung dapat melihat berbagai ornamen dan pajangan yang berhubungan dengan musim semi di Jepang. Salah satu contohnya adalah bunga Sakura tiruan yang sedang mekar, ornamen ini menjadi spot favorit pengunjung untuk berfoto. Selain itu beberapa panitia juga mengenakan pakaian Jepang yang masih berhubungan dengan musim semi.



Penggunaan kata Haru sebagai tema Bunkasai tahun ini diambil dari singkatan kata Heiwa, Aijo dan Ganbaru yang dalam Bahasa Indonesia berarti kedamaian, cinta dan semangat. Pameran budaya Jepang kali ini diisi dengan berbagai rangkaian acara seperti lomba, bazar, hiburan, workshop dan tak ketinggalan parade budaya Jepang.

Untuk memeriahkan acara, panitia  memberikan kejutan kepada para pengunjung. "Tiga entertainer professional bersedia meluangkan waktu demi memeriahkan Bunkasai USU 2016." Ucap Daniel. Ketiga idola tersebut adalah Hiroki Kato (Penyanyi), Y-Boys (Komedian), dan Yukito Keiji (Profesional cosplayer).

Rincian rangkaian acara yang digelar selama tiga hari tersebut adalah Parade Omikoshi, lomba J-Style, sosialisasi pertukaran pelajar antar negara, Nihon Taikai, dan lomba manga. Lima acara ini dilaksanakan pada hari pertama. Pada hari kedua ada lomba seiyuu, workshop cosplay, meet and greet guest star, pemutaran film Jepang, dan Budosai.


Pada hari ketiga sekaligus hari penutupan, berlangsung lomba cosplay dan persembahan penampilan dari Y-Boys dan Hiroaki Kato. selain itu adapula Bon odori, workshop ikebana, seminar kejepangan dari ASJI, demo sushi dan mochitsuki. Adapula kegiatan yang tetap berlangsung selama dua dan tiga hari berturut-turut yakni fun games, lomba fotografi, lomba shodo, workshop gundam dan workshop origami.

Animo masyarakat kota Medan terhadap festival ini sangat tinggi, terbukti dari padatnya pengunjung di lokasi. Bahkan jika pengunjung datang menjelang sore, akan sulit memarkir kendaraan karena begitu padat. Sebagian besar pengunjung adalah anak muda yang datang dari lingkungan dalam maupun luar USU.


Acara ini gratis alias tidak dipungut bayaran. Pengunjung cukup datang ke lokasi festival di Fakultas Ilmu Bahasa dan Seni Universitas Sumatera Utara dan membayar uang parkir Rp. 5.000,- bagi yang membawa kendaraan.

Banyak hal menarik yang dapat ditemui di Festival ini, seperti gerai bazar yang menjajakan dagangan mereka dengan menghias gerai mereka layaknya gerai tradisional Jepang, pengunjung yang berdandan ala karakter anime, dan lain-lain.

Sayangnya, meski papan pemberitahuan yang bertuliskan larangan membuang sampah sembarangan di segala penjuru, tetap saja banyak ditemukan sampah disekitar pengunjung. Di sela-sela padatnya pengunjung, saya melihat seorang anggota osoji (Medan Osoji Club) mengutip sampah dan memasukkannya ke dalam kantung plastik. Saya sendiri bingung mesti berkomentar apa mengenai hal ini.


Sebagian besar pengunjung yang hadir mungkin hanya menggemari Jepang dari sisi gelombang budaya urban mereka saja seperti kartun, makanan, penyanyi, film dan sebagainya. Namun masih sedikit yang turut mengindahkan kebiasaan atau tradisi Jepang yang menjadikan bangsa tersebut salah satu Negara  termaju di dunia.

Seharusnya Bunkasai atau festival kebudayaan Jepang, tidak hanya sekedar pameran kebudayaan populer dari Negara yang notabene pernah menjajah Indonesia 70 tahun silam, seharusnya acara ini juga dapat dijadikan pembelajaran bagi pengunjung dan warga Indonesia lainnya tentang bagaimana sikap disiplin dan bekerja keras orang-orang Jepang bisa terbentuk, sehingga Indonesia juga bisa menjadi negara maju seperti mereka.


No comments:

Post a Comment