Monday, 16 May 2016

Malam Kamisan Bersama Mutya Hafid

Apa kata Bunga. Rabu,  4 mei 2016 yang lalu.  Saya dapat undangan (lebih tepatnya sih,  ajakan) menghadiri acara talk show bersama Mutya Hafid di Kopi Baba Cafe, yang terletak di daerah Kesawan,  Medan Kota.
Karena acaranya malam (pukul 17.30), dan kebetulan hari itu bukan sabtu malam minggu (Hal ini berpengaruh pada saya, secara rumah saya jauh di ujung kulon,  dan saya adalah wanita pengendara motor tunggal, jadi pulang terlalu malam di luar malam minggu, merupakan tantangan tersendiri bagi saya), berdasarkan pertimbangan itu, ajakan tsb awalnya sangat berat untuk saya terima.

Tapi setelah berpikir lebih keras dan dalam (yaelah),  ajakan itu menjadi sangat berat untuk saya tolak. Karena ternyata besoknya (hari kamis) adalah hari libur nasional,  sehingga kemungkinan,  jalanan menuju rumah saya di ujung kulon itu masih ramai pengendara yang bermalam kamis ria. Akhirnya saya putuskan untuk mendaftar dan bermalam kamis ria bersama Mutya Hafid itu (Yeey..).

Alasan utama yang memberatkan saya menolak acara tersebut adalah..  Karena saya memang mengidolakan Mutya Hafid.  Kebetulan saya bukan tipe fans fanatik yang apabila mengidolakan seseorang,  langsung mencari tahu seluk beluk dan menghafal detail mengenai orang tersebut.

Nap! Saya bukan tipe seperti  itu. Jadi mengenai Kakak Mutya Hafid,  yang saya tahu ya,  hanya prestasinya saja.  Dan itu sudah cukup membuat saya ge er -  ge er gak jelas gitu waktu Kak Mutya Hafid menjabat tangan saya dan bertanya asal saya dari mana.  Maksudnya asal kelompok atau komunitas. Heheh.

So,  balik lagi ke acara.  Sejak mula  saya langsung tahu bahwa acara ini pasti acara sosialisasi produk dimana Kak Mutya Hafid mertugas saat ini,  yakni Komisi 1 DPR RI.
Ketika masa reses seperti ini, para anggota dewan akan "Pulang Kampung" berkunjung ke daerah konstituen masing2.  Nah,  itulah yang dilakukan Kakak Mutya Hafid kali ini. Beliau berkunjung ke daerah konstituennya yakni Sumatera Utara.

Sebelumnya saya juga pernah menghadiri acara sosialisasi Kak Mutya Hafid, temanya sama-sama mengenai Undang-Undang penyiaran. Waktu itu acaranya berlangsung di aula hotel bintang 5 dengan undangan dari berbagai elemen masyarakat.  Jauh lebih ramai dan formal ketimbang acara kali ini yang hanya berlangsung di sebuah kafe.

Mungkin karena sosialisasi kali ini memang menyasar para anak muda.  Karena isi dan revisi UU penyiaran yang dimaksud banyak memuat aturan tentang penyiaran di Internet.

Nah,  mengenai apa-apa saja poin yang disampaikan oleh Mutya Hafid,  ini dia rangkuman singkatnya.

‌⌛Komisi 1 merasa semua video yg tayang ke masyarakat harus tunduk pada UU Penyiaran.
⌛‌Efek positif dari kebijakan ini,  semua konten di internet memiliki payung hukum,  tapi negatifnya mereka (chanel atau orang yang membuat konten di internet)  harus mengikuti aturan-aturan sebagaimana stasiun TV nasional.
⌛‌Jika poin ini memang disetujui,  maka semua chanel atau orang yang melakukan penyiaran di Internet menjadi bagian dr IT TV (nama produk baru Komisi Penyiaran namun masih dalam pembahasan).
⌛‌Jika pada akhirnya UU Penyiaran khususnya wacana tentang IT TV disetujui dan disyahkan,  semua konten penyiaran di internet harus tunduk pd UU Pebyiaran dan akan diawasi oleh KPI dan (mungkin) Lembaga Sensor Film Indonesia.
⌛‌Itu artinya masyarakat akan memiliki hak untuk mengadukan sebuah tayangan dan stasiun yg bersangkutan akan menerima sanksi berupa denda hingga penyabutan izin tayang (masih dalam pembahasan).

Selain itu ada pula wacana mengenai TV digital.  Saat ini baik saluran TV analog maupun chanel radio sama-sama menggunakan feekuensi radio.  Sedangkan frekuensi radio merupakan sumber daya alam yang terbatas,  sehingga penggunaanya harus diatur oleh pemerintah.

Berdasarkan hal tersebut,  pemerintah akan mengganti saluran tv analog ke saluran digital.

Keuntungannya,  chanel tidak akan dikuasai oleh para pemilik modal besar saja.  Sehingga chanel TV akan semakin banyak sehingga akan banyak kesempatan untuk tayangan budaya dan pendidikan.

Bagaimana bisa? Bukankah frekuensi radio kita sudah sangat terbatas?

Jadi,  jika kita beralih dr saluran analog ke saluran digital, chanel-chanel TV yang sudah ada bisa dikompres dan dibagi menjadi 8 konten berbeda, sehingga memiliki beberapa kanal.  Contohnya,  metro tv akan punya metro1,2, dst.

Masalahnya apakah kanal2 tsb akan diserahkan pd stasiun yang bersangkutan ataukah pemerintah? "Inilah yg sedang dibahas dan kami mengharapkan aspirasi dari masyarakat".  Kata Kak mutya. ^^

Kak Mutya Hafid juga menjelaskan,  mengapa perkara merubah saluran dari analog ke digital harus seribet ini?
Jadi gini.  :D

Pemerintah kan mewajibkan adanya TV daerah tu.  Tapi kenyataannya, semua chanel itu kini dikuasai oleh pemilik modal dari jakarta.

Padahal awalnya ada peraturan yang melarang TV daerah dikuasai oleh grup nasional,  sesuai dg keputusan menteri.  Tp kemudian peraturan ini dibawa ke Mahkamah Agung dan kemudian dibatalkan karena diangggap melanggar UU,  oleh karena itulah UU Penyiaran harus dirubah guna dapat memberi payung hukum sebelum peralihan dr TV analog ke digital.

*fiuhh..  Panjang dan teknis banget kan pembahasan mengenai UU Penyiaran..
Tapi biar demikian, tetep asik soalnya yang menyampaikan juga cantik dan asik.  Hehe.
Di akhir acara,  ternyata ada surprise dari panitia dan kopi Baba kafe untuk kak mutya hafid yang sedang berulang tahun. Ada acara tiup lilin dan bagi-bagi kue.  Jadi kenyang banget deh pemirsahnya.  Udah dikasih makan malam, snack dan kue ultah.  Yuhuy..  (Macem yang maruk makanan gitu ya,  penulisnya).

Terakhir pas udah mau pulang, langsung aja banyak yang inisiatif minta foto bareng (lebih tepatnya sih,  menyerobot langkah Kak Mutya.  Dan saya dan teman saya adalah inisiator perdana.  Hahaha.

Padahal Kak Mutya udah buru-buru banget tuh. Tapi mau bagaimana lagi,  kan sayang sekali-kali jumpa idola gak dimanfaatkan.  Hehe.

Nah,  segitu dululah yang dibagikan kali ini. See you next time di apa kata bunga yang lain. Bye. 

No comments:

Post a Comment